....sebenarnya ada sesuatu yang
mengganjal di hati ini, sungguh dilema, sungguh menjadi pertentangan dan
pertaruhan antara hati dan hati, dia adalah sang lebah bagiku, lebah itu telah
diimpikan bunga yang membuat hidupku indah. Tetapi,dia, dia, sahabatku yang
lebih dulu memimpikan sang lebah itu...
Dear my diary, what should i do
to destroy my confusing?
24 December 2007, in my bedroom
Surat itu datang dari kemarin,
aku hanya bisa membaca sekali, tak sanggup untuk keduakalinya, sungguh aku tak
percaya...aku tak mau membaca lagi untuk meyakinkanku, aku langsung
memusnahkannya. Lelaki itu, lebah itu menyatakan rasa cintanya. Tadinya aku
curiga, aku ketiduran karena kelelahan dan memimpikan sang lebah itu, tapi ... buku
itu, buku yang kupinjamkan pada sang lebah, menjatuhkan selembar kertas merah
muda, oh, diary, aku langsung cuci muka dan dengan konyolnya kucubit tanganku,
aku kesakitan, artinya aku dalam keadaan sadar. Aku bertekad untuk tidak
membuka lipatannya, aku curiga lembaran itu akan membuat hidupku merana. Aku
itu bukan kamu, diary, aku manusia biasa yang punya rasa penasaran. Tembok
kepenasaranku pecah, kubuka lipatannya dengan detak jantung tak
beraturan,...diary, kecurigaanku benar, berikut isi suratnya sengaja kutulis
hanya untukmu,
Dear my beautiful rose,
Seperti yang engkau ketahui,
bahwa perjalanan kita telah jauh menempuh berbagai peristiwa, kadang engkau dan
aku menangis bersama, sering pula kita tertawa bersama. Entah mengapa, sesuatu
sering terjadi di kala aku sendiri, seperti hampa, kosong dan rapuh, sungguh
berbeda saat aku bersamamu, begitu lengkap dan kokoh. Tanpa bermaksud
mengkhianati persahabatan kita, maukah kita melanjutkan perjalanan kita bersama
dalam suatu komitmen yang lebih dari bersahabat?
Nb: datanglah sabtu, di Green
Camp, jam 10.00
Begitulah isi surat itu, diary
Diary, kucoba untuk bernafas
sedalam-dalamnya, namun tetap sesak, terhimpit bebannya hati.
Diary, harus gimanakah aku, sudah
puluhan kali dia menelpon namun selalu aku reject dan smsnya langsung kuhapus
tanpa kubaca.
Meja belajar, january 1st 2008
Diary, aku sudah tidak tahan,
tadi aku hampir membicarakan si lebah pada bunga melati, ups...untung saja aku
segera sadar, bunga melati kan sedang menulis puisi buat sang lebah. Benar kan,
bunga melati membacakannya padaku.
Diary, biarkan aku menangis, aku
tahu aku tidak boleh cengeng, tapi aku juga wanita yang menggunakan perasaan
dalam melangkah. Aku juga punya puisi tersendiri buat sang lebah. Aku merasa
sendirian sekarang, dahulu aku tinggal cerita pada bunga melati, sekarang ?
Mana mungkin aku cerita..... Bagiku, menceritakannya sama dengan membunuhnya.
Maafkan aku bunga melati, aku merasa mengkhianatimu...aku tidak bisa berbohong
pada hatiku sendiri.
2 januari 2008
……………………..<<<<<<<>>>>>>>………………….
Dear diary,
Sekarang aku sudah kuliah,
beruntung lewat jalur usmi, aku diterima di salah satu ptn. Seperti biasanya
suasana baru mendatangkan sahabat baru. Kukenalkan seorang sahabat baruku
padamu, namanya bunga melati, sesuai dengan kesukaannya pada melati, dan diapun
memberi nama mawar padaku senama dengan kagumnya aku pada mawar. Diary, jika
aku cerita bunga melati, itulah dia, sahabatku satu-satunya di pulau jawa. Kau
tahu sendiri aku susah sekali berteman apalagi bersahabat, punya pacar pun
hanya engkau diary, bagiku lelaki adalah dunia yang lain.
23 oktober 2004
Diary, aku dan bunga melati
sekarang aktif di organisasi kemahasiswaan bem kampus, aku jadi sekertaris dan
bunga melati jadi bendahara. Nah, diary, kami berdua sepakat untuk menerima
seorang lelaki untuk menjadi sahabat kami, kami sendiri yang memberi nama
lelaki itu sang lebah. Asal kau tahu, sang lebah adalah pemimpin kami. Aku dan
bunga melati menilai bahwa sang lebah adalah lelaki yang memberi tahu kami
bahwa tidak semua laki-laki itu senegatif yang kami kira. Diary, kayaknya aku
merasa mengkhianatimu, aku... ah,...aku malu sama kamu, diary, aku merasa bahwa
lelaki itu ada di duniaku sekarang bukan di dunia lain. Tapi, aku tak akan
cerita pada bunga melati, aku malu untuk mengakui bahwa aku salah menilai
lelaki, aku malu bahwa aku menaruh hati sama sang lebah, ups...seharusnya aku
menyimpan rahasia ini, kamu tidak seharusnya tahu diary, tapi udah lah, kalau
nggak kepadamu kepada siapakah aku mesti cerita.
January 23rd 2006…#
Diary, aku bingung....Diary, aku
harus bagaimana? Diary, bunga melati, dia mengatakan bahwa sang lebah adalah
satu-satunya lelaki yang paling cocok dengannya di dunia ini. Diary, aku adalah
manusia paling munafik di dunia ini, aku bilang bahwa sang lebah adalah lelaki
paling sesuai dengannya. Bunga melati merasa bahwa sang lebah lelaki idamannya.
Bagiku lebih baik sahabatku yang bahagia daripada aku kehilangan sahabatku. Kan
ku cari sang lebah yang lain, kuyakin pasti akan ada untukku.
24 mei 2007
Diary, aku curiga dengan sang
lebah, saat ini, dia sering mengajakku untuk pergi berdua saja, namun selalu
kutolak dan selalu kuajak melati tuk pergi. Tentu saja sering kali kulihat
wajah kekecewaan yang terpancar dari wajahnya. Aku curiga jangan-jangan sang
lebah menyimpan sesuatu buatku. Namun selalu kuyakinkan bahwa itu semua hanya
kegeeranku, kata orang wanita itu gampang terbawa perasaannya, jadi aku tidak
berfikir logis. Tapi tetap saja hal itu jadi ganjalan buat aku, apa aku
berharap? Harus aku akui, aku memang masih mengharapkannya, namun segera
kubuang jauh perasaan itu ketika ku teringat melati.
20 agustus 2007
Dear diary, sekarang aku masuk
rumah sakit lagi, papa mamaku langsung datang ke sini, senangnya aku ditemani
ortuku, namun tetap saja ada yang mengganjal di hati ini. Aku ingin sekali
ditengok sang lebah...
Vip room hospital 17 sept 07
Dear diary, besok adalah ultah sang lebah, aku sudah menyiapkan kado spesial buatnya. Aku tahu pasti bahwa sang lebah penyuka sepakbola dan kolektor miniatur pemain bola, saat itu dia bilang bahwa dia ingin sekali punya miniatur seluruh pemain klub favoritnya lengkap. Kebetulan om aku ada yang jadi konsulat di Italia, aku pun minta bantuan sepupuku untuk membawakan miniatur seluruh pemain klub Inter Milan. Semuanya sudah kubungkus dengan kertas kado berwarna biru, warna kesukaan sang lebah. Namun diary, jika aku memberikan kado itu buat sang lebah, apa tidak akan memberikan harapan buat sang lebah? Apabila melati memberikan kado yang sama denganku, bagaimana?
Diary, aku memutuskan untuk tetap
membawa kado itu, namun akan kuberikan jika melati memberikan kado yang berbeda
denganku.
24 Nov 2007
Dear diary,
I want to cry, but have i cry for
something that unreasonable? Berhak kah aku untuk menangis? Hati ini telah
lelah, sudah saatnya aku untuk memilih. Diary, tadi pagi melati curhat kepadaku
tentang kado yang akan dia berikan buat sang lebah, dia telah menghabiskan
seluruh tabungannya untuk membeli kaos tim asli inter milan. Bagiku pengorbanan
melati sangatlah besar melebihi besarnya pengorbananku.
Diary, sebegitu besarnya
pengorbanan melati membuktikan besar cinta yang dimilikinya. Aku tahu sekali
keadaan melati, kalau bukan untuk kebutuhan mendesak tidak mungkin dia sampai
menggunakan tabungannya.
Diary, cinta yang kumiliki terasa
kecil jika dibandingkan dengan pengorbanan melati. Akankah sang lebah bahagia
denganku, dengan cintaku? Atau akankah sang lebah lebih bahagia jika dengan
melati, dengan cinta melati? Andaikan aku seorang lelaki yang lebih menyukai logika
daripada lika-liku perasaan, tentunya cinta melati yang akan kupilih. Meskipun
aku perempuan tetapi aku adalah mahasiswa kimia yang menyukai logika dan fakta
daripada asumsi.
Sengaja kupaparkan semuanya biar
kau mengerti mengapa aku tidak jadi memberikan kado ultah pada sang lebah.
Bagiku memberikan kado buat sang lebah sama saja dengan mengkhianati sahabat
dan mengangu aliran cinta suci melati.
Ah, diary, biarkanlah semuanya
berjalan dengan tanpa hadirnya aku, biarkanlah pengorbananku ini adalah sebuah
bukti rasa cintaku pada sang lebah.
Tetapi, diary, aku mencintainya,
keegoisanku memberitahuku bahwa akupun berhak untuk bahagia, bahwa aku berhak
memilikinya. Mana yang aku harus ikuti, kata hatiku yang mana diary??????? Aku
ingin kau yang menjawabnya, aku ingin kau yang menasihatiku, diary!!!!
25 Nop 2007
Diary, aku senang sekali, aku
bahagia sekali , tetapi…aku sedih, aku merana. Tadi pagi, sang lebah ke tempat
kost aku, dia mengajak untuk pergi mengnjungi sebuah tempat yang menurutnya
hanya aku yang boleh tahu. Tentu saja kutolak dan ku beri syarat agar melati
ikut. Tetapi, sang lebah meminta dengan sangat dan memelas supaya hanya aku
yang boleh tahu. Jujur, diary, saat itu aku bimbang, antara hati dan hati,
antara cinta sahabat dan cinta kekasih, tetapi aku manusia, aku bisa khilaf,
aku mempunyai perasaan lebih luas daripada belahan dunia, aku goyah, aku
mengkhianati sahabatku sendiri, aku menerima tawaran sang lebah dengan hati
yang meluap-luap, sesaat aku bahagia, tetapi detik ini, hatiku teriris, aku
melukai hati melati, melukai hati melati berarti melukai hatiku. Sang lebah
adalah mahasiswa kehutanan, dia penduduk asli sebuah kawasan hutan lindung.
Kawasan hutan lindung yang telah tak berdayalah yang membuat dia bertekad untuk
masuk fakultas kehutanan untuk mencari ilmu tentang hutan, dan sejak dia
diterima di fakultas kehutanan, dia mendirikan organisasi pelindung hutan, dan
sejak saat itu pula dia mulai menanami hutan lindung itu. Pohon-perpohon mulai ditanam
dari satu pohon sampai seribu pohon. Kini setelah empat tahun pohon-pohon itu
telah menjulang ke angkasa dan melambai-lambai, hutan lindung yang empat tahun
silam tak berdaya, kini menjadi payung buat hutan di sekitarnya. Bukan hanya
itu, sang lebah berhasil membuat masyarakat sekitar menjadi berwawasan
lingkungan, dengan metode pendekatan sang lebah bisa membuat suatu hubungan
saling membutuhkan antara masyarakat sekitar dengan hutan lindung. Diary, aku
salut sekali dengan apa yang dilakukan oleh sang lebah, dia pejuang lingkungan
sejati, ah, aku makin jatuh cinta saja. Sang lebah membawaku ke puncak hutan
lindung itu, dia menceritakan segalanya, termasuk bagaimana uang tabungannya
habis untuk membiayai ekspedisi reboisasi hutan lindung, aku ngobrol di bawah
pohon jati yang telah empat tahun ditanam sang lebah, pohon pertama. Betapa
tersanjungnya aku ketika sang lebah bilang bahwa orang yang pertama dia ajak
untuk melihat pohon pertamanya adalah aku. Entah aku kegeeran, atau entah
memang benar (semoga saja tidak benar), sang lebah mengatakan seolah-olah dia
menganggap aku sebagai seseorang yang spesial. Ah, diary aku bingung, aku
merasa tak adil buat semuanya….
2 desember 2007
……………………..<<<<<<<>>>>>>>………………….
Diary, aku sedih….aku menangis,
tetapi biarlah, aku menangis buat diriku sendiri, aku kan manusia. Aku tidak
datang hari ini, aku menyatakan bahwa kekasih bisa datang kapan saja, tetapi
mencari sahabat sejati akan sangat sulit….kehilangan sahabat sama dengan
kehilangan diri sendiri. Aku tidak datang seperti apa yang disuruh sang lebah dalam
suratnya, untuk menjawab pertanyaan surat itu. Aku tidak berani untuk
mengatakannya langsung, karena jika sesuatu yang berkaitan dengan perasaan,
sesuatu hal yang direncanakan bisa tidak sesuai. Karena perasaanku terhadap
sang lebah akan membuat akal sehatku hilang, rasa cintaku akan membuat lidahku
kelu saat aku harus bilang tak cinta. Karena itu, aku memutuskan untuk
mengirimkan surat saja besok dari sini. Kau kan tahu diary, aku sudah pulang ke
rumah, walau tergesa-gesa tetapi aku bisa meyakinkan melati bahwa aku pulang karena
aku ingin membangun tanah kelahiranku. Untungnya melati tidak memaksaku untuk
mengadakan pesta perpisahan dengan sang lebah. Tahukah kau diary, hatiku merana
sebenarnya, aku memang munafik, tetapi,…aku tidak mau kehilangan sahabat, dari
awal aku mau rasa ini hilang, tetapi tak pernah bisa kulakukan, rasa itu
semakin kuat karena aku semakin mengagumi sang lebah. Mudah-mudahan dengan
jarak yang jauh, dan ketidakmungkinan untuk bertemu akan membuat rasa ini
hilang. Kamu mau kan diary, menemaniku sampai ajalku tiba?
5 januari 2008
“Kak, ayo kita cari tahu sang
lebah itu siapa, melati itu siapa, Kakak pasti tahu, karena Kak Lina, selalu
memanggil nama Kakak”. Suara itu, mengusik pikiranku ketika aku tengah membaca
tulisan diary Lina, sahabatku. Segera kuseka air mataku dan ku menatap Aldi,
adiknya Lina, yang dengan sengaja mencariku jauh-jauh karena ingin
membahagiakan kakaknya.
“Iya, Al, nanti Kak Sofi,
ceritakan semuanya, tentang siapa itu sang lebah” Sahutku. Kemudian kuceritakan
semuanya, bahwa sang lebah itu adalah Raditya, sahabat kami, dan tentu saja,
melati itu adalah nama aku. Aldi hanya bisa terdiam dan dia tertegun ketika
kuceritakan tentang Raditya, bagi Aldi, wajar jika kami menyukai Raditya.
“Sekarang, Kak Radit ada di mana
kak?”.
“Justru itu, sejak kakakmu pulang
ke rumah, Radit juga menghilang begitu saja, Kak Sofi sudah mencoba mencari
kemana-mana, tetapi tidak menemukan Radit”.
“Kak Sofi mau kan bantu Aldi
mencari lagi Kak Radit, demi Kak Lina?”.
“ Tentu saja Al, kakak pasti akan
bantu kamu mencarikan Radit”.
Lalu, aku dan Aldi mulai
melakukan pencarian Radit. Aku sudah bertekad bahwa untuk menebus kesalahanku,
aku harus menemukan Radit dan mempertemukannya dengan Lina. Kami mencari-cari
mulai dari kost-kostan pertama Radit, Base Camp Alumni Kehutanan, Green Camp,
hingga telepon ke rumah orang tuanya.
Ada sebuah harapan, berdasarkan
cerita orang tuanya Radit, bahwa Radit memang tidak memberi tahu keberadaannya,
tetapi dia memastikan bahwa yang dilakukannya sangat bermanfaat buat dirinya
dan buat bumi. Berdasarkan cerita itu dan cita-cita Radit, aku mulai menemukan
jalan di mana Radit berada. Buku diary lah yang memberiku sedikit informasi.
Aku memikirkan hutan lindung dan pohon pertama, aku memikirkan keterkaitannya dengan
Lina. Ah tidak salah lagi, Radit pasti ada di sana.
Kemudian kami mulai menanyakan
pada orang-orang yang pernah dekat dengan Radit tentang keberadaan hutan
lindung dan pohon pertama Radit. Setelah kami kumpulkan semua informasi, kami
memutuskan bahwa kami harus ke sana.
……………………..<<<<<<<>>>>>>>………………….
Diary, aku harus bagaimana lagi…?
Separuh jiwa ini telah hilang, separuh nafasku tak sanggup kuhisap. Aku masih
ingin mencintai…. Apakah salah mencintainya? Kenapa cinta datang bkan pada
orang yang tepat? Aku memang selalu ingin melupakannya, tetapi, diary, semakin
aku melupakannya, semakin kuat cinta itu merenggutku. Sekarangpun ketika
seharusnya cinta itu bisa pergi, batinku malah terasa sakit, aku menahan semua
sakit itu, aku masih belum bisa membekukan perasaanku, aku masih mencintainya. Haruskah
aku menyerah dan mengkhianati sahabatku sendiri, bagian diriku yang lain.
Tidak, diary…. Persahabatan lebih penting dari segalanya.
21 januari 2008
Aku menyerah diary…, tetapi tetap
kusimpan perasaanku ini, biarlah cintaku ini bukan untuk dimiliki, dan ku juga
tidak akan berusaha untuk memiliki cintanya. Cinta tak harus saling memiliki,
cinta adalah anugerah, cinta tak boleh menyakiti, cinta itu tidak boleh membuat
menderita, cinta harus bisa membahagiakan. Karena itu diary, aku menyerah untuk
tidak mencintainya, aku tidak sanggup berbohong pada diriku sendiri, hatiku
selalu sakit ketika ku menyatakan ku tak punya perasaan. Kini setelah aku
menyerah, kondisi hatiku membaik, malahan aku kembali bersemangat untuk bisa
survive. Ternyata, diary, jatuh cinta itu membuat bahagia….
24 januari 2008
Aku tahu diary, ada susuatu yang
disembunyikan oleh orang tuaku mengenai keadaanku, dari dulu aku sudah curiga,
sejak aku tidak diijinkan kuliah di luar kota (mereka mengijinkanku karena
terpaksa setelah aku mogok makan), sejak aku bolak-balik rumah sakit tanpa
kutahu apa penyakitku. Diary, hari ini akhirnya aku diberi tahu oleh orang
tuaku mengenai keadaanku, aku menderita kelainan di otak, sejenis kanker. Aku,
hanya bisa pasrah… Aku tahu ini semua takdir, aku tahu bahwa kematian bisa
datang kapan saja, aku pun tahu bahwa jika kita berusaha apapun penyakit itu
pasti bisa disembuhkan. Kamu tahu diary, apa yang membuatku bisa tegar seperti
ini? Cinta, diary, rasa cinta yang kumilikilah yang membuatku seperti ini.
Cinta membuatku menyalakan semangat, menyadarkanku akan perjuangan hidup,
menopangku dalam ketidakberdayaanku, dan aku yakin bahwa cinta akan
menyembuhkanku. Hanya satu yang aku takuti sekarang, yaitu jika aku sudah mati rasa, sehingga aku tidak bisa merasakan
cinta ini. Karena cintalah yang menghidupkanku. Percayalah diary, sejak aku
punya cinta, aku bertambah yakin akan bisa sembuh….
3 Pebruari 2008
“ Kak, ini tisuenya…”. Suara itu
mengagetkanku.
“ Iya, Al, terima kasih”. Kuambil
tisue itu, dan tak kuasa ku hanya bisa menangis sejadi-jadinya. Aku tak
memperdulikan keadaan sekitar, aku hanya peduli sahabatku yang sedang sekarat,
karena aku tahu bahwa sekarang dia dalam keadaan tidak bisa merasakan cinta,
yang berarti dia telah kehilangan kehidupannya.
“ Maaf ya Al, kak Sofi seperti
ini, kak Sofi hanya merasa bersalah, seandainya dulu kak Sofi bisa
menyembunyikan perasaan kak Sofi, tentunya kakakmu bisa hidup bahagia dengan
cinta yang saling memiliki.”
“ Kak Sofi tidak boleh merasa
bersalah, kak Lina sudah merasakan bahagianya cinta meskipun tidak memiliki
wujudnya.”
‘ Kakakmu itu adalah seorang
pencinta sejati, jarang sekali orang seperti kakakmu itu..”
……………………..<<<<<<<>>>>>>>………………….
Bersyukurlah aku diary, karena
aku masih bisa merasakan cinta meski dalam ketidakberdayaanku, aku lemah secara
fisik tetapi aku hatiku kuat, jiwaku kuat. Beruntung pula aku masih bisa
berbagi denganmu diary, walau mungkin tulisanku sudah tidak jelas, karena sejak
kemarin syarafku mulai kaku, aku terasa lumpuh, tetapi, hatiku tidak lumpuh,
aku masih bisa merasakan cinta. Ini konyaol dan agak sentimentil, aku ingin
sebelum aku tidak bisa merasakan segalanya, aku ingin bertemu dengan sang
lebah. Tapi bagaimana caranya? Mungkin aku bisa berdoa untuk dipertemukan
terlebih dahulu dengan sang lebah sebelum dipertemukan dengan sang pencipta.
Aku lelah diary….
4 Maret 2008
Radittya……cinta…cinta……
Sofi….sahabat….maaf
Raditya….
Rdaty…
Radit
“Itulah lembaran terakhir yang
ditulis oleh Lina, sebelum dia tidak sadarkan diri. Kini sudah dua bulan dia
koma di rumah sakit, dokter sudah angkat tangan, mungkin cintalah yang bisa
membangunkannya, bahkan mungkin bisa menyembuhkannya sebelum terlambat….”
Kuceritakan pada Radit, kulihat Radit tidak bisa menahan kesedihannya.
Kubiarkan dia sejenak untuk bisa menenangkan dirinya. Aku tahu berat sekali
buat Radit untuk menerima semua ini, Radit telah berusaha untuk menyembuhkan
lukanya sendiri, kini berusaha untuk mencoba mewujudkan keinginan yang mungkin
keinginan terakhir seseorang yang sangat dicintainya. Radit yang telah
mengasingkan diri untuk tinggal di hutan lindung hanya demi menyembuhkan rasa
sakit akibat cinta yang ditolak.
“ Sofi, aku tidak bisa, aku nggak
sanggup melihatnya…”
“Tolonglah Radit, hanya kamulah
satu-satunya harapan yang bisa membuatnya tersadar”
“ Benar Kak, sebelum koma Kak
Lina sangat ingin bertemu Kak Radit, tolonglah Kak, setidaknya Kak Lina bisa
mendapatkan cintanya terwujud, walaupun…. Mungkin hanya sesaat…”
“Baiklah kalau begitu, kapan kita
berangkat?” Raditya akhirnya setuju untuk pergi menemui Lina, walaupun dengan
segala keengganan, karena merasa dialah yang telah membuat Lina merana.
…………………………………..<<<<<>>>>>>…………………………………..
“ Lina, ini aku…, sekarang aku
sudah tahu semua isi hatimu, sekarang semuanya sudah jelas, Sofi sudah tidak
punya perasaan lagi…, sekarang kamu bisa memiliki cinta itu. Sekarang, aku sang
lebah itu telah ada di depanmu,….” Raditya, tidak kuasa menahan tangisnya
setelah melihat keadaan Lina.
“ Ayolah Lin, segera sadar, aku
datang ke sini hanya untuk mendengarkan semua isi hatimu, langsung dari
suaramu,….” Raditya mencoba menggerak-gerakan tangan Lina, tetapi usahanya
gagal, Lina tetap saja dalam keadaan bawah sadar.
“ Lina, asal kamu tahu, aku mencintaimu
apa adanya, biarpun kamu tidak bisa melakukan apa-apa, aku tetap mencintaimu,
cintaku tulus…..”
“Lina, selamanya aku tidak akan
mencintai wanita lain selain kamu, mencintai wanita lain adalah mengkhianati
cinta tulus ini…” ratapan, teriakan histeris, dan tangisan menyatu di ruangan,
akan tetapi semuanya tidak bisa membuat Lina sadar.
“ Sudahlah nak Radit, mungkin
nanti bisa sadar, ibu yakin Lina mendengar semua ucapan nak Radit.” Ibunya Lina
menegur Radit yang sudah tidak terkendali. Radit segera sadar dan melepaspan
genggaman tangannya. Namun tiba-tiba Radit merasakan ada respon dari tangan
Lina. Semuanya segera melihat Lina yang membuka matanya.
“….semua yang Lina cintai telah
hadir sekarang, …Lina bahagia sekali, karena akhirnya Lina bisa mendapatkan
seluruh cinta yang ada, mungkin sekarang sudah saatnya Lina mendapatkan cinta
dari Sang Pencipta. Maafkan Lina…ya! Ayah, Ibu, Adek, Sofi, …Radit, Lina sayang
semua…..” Seketika, Lina kembali tidak sadar, akan tetapi ada suara yang
menyadarkan kami, kalau ternyata Lina telah menemui cinta Sang Pencipta.
…………………..<<<<
selesai>>>>……………..
Karawang, Januari 2009
