13 July, 2013

Sabar

Dalam dentuman air hujan
Sepenggal rasa itu hadir
Menghentak dan menajam
Seperti hati ini yang getir

Dalam penantian ini
Aku mesti bersabar
Merasakan hari sepi
Seperti dirimu yang murka

Entah karena apa
Entah karena diriku

08 July, 2013

Transformation

Perubahan akan selalu datang dan itu terjadi secara alami. Tidak ada sesuatu pun yang tidak berubah, seperti hari ini mungkin akan terjadi perubahan dalam formasi hidup seseorang.

Hari ini menurut rencana akan dilakukan pengangkatan bos, mudaha-mudahan yang terjadi adalah perubahan ke arah yang lebih baik. Organisasi menjadi lebih solid.

Kalaupun benar terjadi pergeseran, met pusah ya papih (begitulah harryfakri manggil bos), semoga tempat baru lebih baik daripada tempat sebelumnya. 

Kalau boleh lebay mah. We will miss you...,

20 February, 2013

SEBELUM TERLAMBAT



....sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal di hati ini, sungguh dilema, sungguh menjadi pertentangan dan pertaruhan antara hati dan hati, dia adalah sang lebah bagiku, lebah itu telah diimpikan bunga yang membuat hidupku indah. Tetapi,dia, dia, sahabatku yang lebih dulu memimpikan sang lebah itu...
Dear my diary, what should i do to destroy my confusing?
24 December 2007, in my bedroom

Surat itu datang dari kemarin, aku hanya bisa membaca sekali, tak sanggup untuk keduakalinya, sungguh aku tak percaya...aku tak mau membaca lagi untuk meyakinkanku, aku langsung memusnahkannya. Lelaki itu, lebah itu menyatakan rasa cintanya. Tadinya aku curiga, aku ketiduran karena kelelahan dan memimpikan sang lebah itu, tapi ... buku itu, buku yang kupinjamkan pada sang lebah, menjatuhkan selembar kertas merah muda, oh, diary, aku langsung cuci muka dan dengan konyolnya kucubit tanganku, aku kesakitan, artinya aku dalam keadaan sadar. Aku bertekad untuk tidak membuka lipatannya, aku curiga lembaran itu akan membuat hidupku merana. Aku itu bukan kamu, diary, aku manusia biasa yang punya rasa penasaran. Tembok kepenasaranku pecah, kubuka lipatannya dengan detak jantung tak beraturan,...diary, kecurigaanku benar, berikut isi suratnya sengaja kutulis hanya untukmu,
Dear my beautiful rose,
Seperti yang engkau ketahui, bahwa perjalanan kita telah jauh menempuh berbagai peristiwa, kadang engkau dan aku menangis bersama, sering pula kita tertawa bersama. Entah mengapa, sesuatu sering terjadi di kala aku sendiri, seperti hampa, kosong dan rapuh, sungguh berbeda saat aku bersamamu, begitu lengkap dan kokoh. Tanpa bermaksud mengkhianati persahabatan kita, maukah kita melanjutkan perjalanan kita bersama dalam suatu komitmen yang lebih dari bersahabat?
Nb: datanglah sabtu, di Green Camp, jam 10.00

Begitulah isi surat itu, diary
Diary, kucoba untuk bernafas sedalam-dalamnya, namun tetap sesak, terhimpit bebannya hati.
Diary, harus gimanakah aku, sudah puluhan kali dia menelpon namun selalu aku reject dan smsnya langsung kuhapus tanpa kubaca.
Meja belajar, january 1st 2008

Diary, aku sudah tidak tahan, tadi aku hampir membicarakan si lebah pada bunga melati, ups...untung saja aku segera sadar, bunga melati kan sedang menulis puisi buat sang lebah. Benar kan, bunga melati membacakannya padaku.
Diary, biarkan aku menangis, aku tahu aku tidak boleh cengeng, tapi aku juga wanita yang menggunakan perasaan dalam melangkah. Aku juga punya puisi tersendiri buat sang lebah. Aku merasa sendirian sekarang, dahulu aku tinggal cerita pada bunga melati, sekarang ? Mana mungkin aku cerita..... Bagiku, menceritakannya sama dengan membunuhnya. Maafkan aku bunga melati, aku merasa mengkhianatimu...aku tidak bisa berbohong pada hatiku sendiri.
2 januari 2008

……………………..<<<<<<<>>>>>>>………………….
Dear diary,
Sekarang aku sudah kuliah, beruntung lewat jalur usmi, aku diterima di salah satu ptn. Seperti biasanya suasana baru mendatangkan sahabat baru. Kukenalkan seorang sahabat baruku padamu, namanya bunga melati, sesuai dengan kesukaannya pada melati, dan diapun memberi nama mawar padaku senama dengan kagumnya aku pada mawar. Diary, jika aku cerita bunga melati, itulah dia, sahabatku satu-satunya di pulau jawa. Kau tahu sendiri aku susah sekali berteman apalagi bersahabat, punya pacar pun hanya engkau diary, bagiku lelaki adalah dunia yang lain.
23 oktober 2004

Diary, aku dan bunga melati sekarang aktif di organisasi kemahasiswaan bem kampus, aku jadi sekertaris dan bunga melati jadi bendahara. Nah, diary, kami berdua sepakat untuk menerima seorang lelaki untuk menjadi sahabat kami, kami sendiri yang memberi nama lelaki itu sang lebah. Asal kau tahu, sang lebah adalah pemimpin kami. Aku dan bunga melati menilai bahwa sang lebah adalah lelaki yang memberi tahu kami bahwa tidak semua laki-laki itu senegatif yang kami kira. Diary, kayaknya aku merasa mengkhianatimu, aku... ah,...aku malu sama kamu, diary, aku merasa bahwa lelaki itu ada di duniaku sekarang bukan di dunia lain. Tapi, aku tak akan cerita pada bunga melati, aku malu untuk mengakui bahwa aku salah menilai lelaki, aku malu bahwa aku menaruh hati sama sang lebah, ups...seharusnya aku menyimpan rahasia ini, kamu tidak seharusnya tahu diary, tapi udah lah, kalau nggak kepadamu kepada siapakah aku mesti cerita.
January 23rd 2006…#

Diary, aku bingung....Diary, aku harus bagaimana? Diary, bunga melati, dia mengatakan bahwa sang lebah adalah satu-satunya lelaki yang paling cocok dengannya di dunia ini. Diary, aku adalah manusia paling munafik di dunia ini, aku bilang bahwa sang lebah adalah lelaki paling sesuai dengannya. Bunga melati merasa bahwa sang lebah lelaki idamannya. Bagiku lebih baik sahabatku yang bahagia daripada aku kehilangan sahabatku. Kan ku cari sang lebah yang lain, kuyakin pasti akan ada untukku.
24 mei 2007

Diary, aku curiga dengan sang lebah, saat ini, dia sering mengajakku untuk pergi berdua saja, namun selalu kutolak dan selalu kuajak melati tuk pergi. Tentu saja sering kali kulihat wajah kekecewaan yang terpancar dari wajahnya. Aku curiga jangan-jangan sang lebah menyimpan sesuatu buatku. Namun selalu kuyakinkan bahwa itu semua hanya kegeeranku, kata orang wanita itu gampang terbawa perasaannya, jadi aku tidak berfikir logis. Tapi tetap saja hal itu jadi ganjalan buat aku, apa aku berharap? Harus aku akui, aku memang masih mengharapkannya, namun segera kubuang jauh perasaan itu ketika ku teringat melati.
20 agustus 2007

Dear diary, sekarang aku masuk rumah sakit lagi, papa mamaku langsung datang ke sini, senangnya aku ditemani ortuku, namun tetap saja ada yang mengganjal di hati ini. Aku ingin sekali ditengok sang lebah...
Vip room hospital 17 sept 07

Dear diary, besok adalah ultah sang lebah, aku sudah menyiapkan kado spesial buatnya. Aku tahu pasti bahwa sang lebah penyuka sepakbola dan kolektor miniatur pemain bola, saat itu dia bilang bahwa dia ingin sekali punya miniatur seluruh pemain klub favoritnya lengkap. Kebetulan om aku ada yang jadi konsulat di Italia, aku pun minta bantuan sepupuku untuk membawakan miniatur seluruh pemain klub Inter Milan. Semuanya sudah kubungkus dengan kertas kado berwarna biru, warna kesukaan sang lebah. Namun diary, jika aku memberikan kado itu buat sang lebah, apa tidak akan memberikan harapan buat sang lebah? Apabila melati memberikan kado yang sama denganku, bagaimana?
Diary, aku memutuskan untuk tetap membawa kado itu, namun akan kuberikan jika melati memberikan kado yang berbeda denganku.
24 Nov 2007

Dear diary,

I want to cry, but have i cry for something that unreasonable? Berhak kah aku untuk menangis? Hati ini telah lelah, sudah saatnya aku untuk memilih. Diary, tadi pagi melati curhat kepadaku tentang kado yang akan dia berikan buat sang lebah, dia telah menghabiskan seluruh tabungannya untuk membeli kaos tim asli inter milan. Bagiku pengorbanan melati sangatlah besar melebihi besarnya pengorbananku.
Diary, sebegitu besarnya pengorbanan melati membuktikan besar cinta yang dimilikinya. Aku tahu sekali keadaan melati, kalau bukan untuk kebutuhan mendesak tidak mungkin dia sampai menggunakan tabungannya.
Diary, cinta yang kumiliki terasa kecil jika dibandingkan dengan pengorbanan melati. Akankah sang lebah bahagia denganku, dengan cintaku? Atau akankah sang lebah lebih bahagia jika dengan melati, dengan cinta melati? Andaikan aku seorang lelaki yang lebih menyukai logika daripada lika-liku perasaan, tentunya cinta melati yang akan kupilih. Meskipun aku perempuan tetapi aku adalah mahasiswa kimia yang menyukai logika dan fakta daripada asumsi.
Sengaja kupaparkan semuanya biar kau mengerti mengapa aku tidak jadi memberikan kado ultah pada sang lebah. Bagiku memberikan kado buat sang lebah sama saja dengan mengkhianati sahabat dan mengangu aliran cinta suci melati.
Ah, diary, biarkanlah semuanya berjalan dengan tanpa hadirnya aku, biarkanlah pengorbananku ini adalah sebuah bukti rasa cintaku pada sang lebah.
Tetapi, diary, aku mencintainya, keegoisanku memberitahuku bahwa akupun berhak untuk bahagia, bahwa aku berhak memilikinya. Mana yang aku harus ikuti, kata hatiku yang mana diary??????? Aku ingin kau yang menjawabnya, aku ingin kau yang menasihatiku, diary!!!!
25 Nop 2007

Diary, aku senang sekali, aku bahagia sekali , tetapi…aku sedih, aku merana. Tadi pagi, sang lebah ke tempat kost aku, dia mengajak untuk pergi mengnjungi sebuah tempat yang menurutnya hanya aku yang boleh tahu. Tentu saja kutolak dan ku beri syarat agar melati ikut. Tetapi, sang lebah meminta dengan sangat dan memelas supaya hanya aku yang boleh tahu. Jujur, diary, saat itu aku bimbang, antara hati dan hati, antara cinta sahabat dan cinta kekasih, tetapi aku manusia, aku bisa khilaf, aku mempunyai perasaan lebih luas daripada belahan dunia, aku goyah, aku mengkhianati sahabatku sendiri, aku menerima tawaran sang lebah dengan hati yang meluap-luap, sesaat aku bahagia, tetapi detik ini, hatiku teriris, aku melukai hati melati, melukai hati melati berarti melukai hatiku. Sang lebah adalah mahasiswa kehutanan, dia penduduk asli sebuah kawasan hutan lindung. Kawasan hutan lindung yang telah tak berdayalah yang membuat dia bertekad untuk masuk fakultas kehutanan untuk mencari ilmu tentang hutan, dan sejak dia diterima di fakultas kehutanan, dia mendirikan organisasi pelindung hutan, dan sejak saat itu pula dia mulai menanami hutan lindung itu. Pohon-perpohon mulai ditanam dari satu pohon sampai seribu pohon. Kini setelah empat tahun pohon-pohon itu telah menjulang ke angkasa dan melambai-lambai, hutan lindung yang empat tahun silam tak berdaya, kini menjadi payung buat hutan di sekitarnya. Bukan hanya itu, sang lebah berhasil membuat masyarakat sekitar menjadi berwawasan lingkungan, dengan metode pendekatan sang lebah bisa membuat suatu hubungan saling membutuhkan antara masyarakat sekitar dengan hutan lindung. Diary, aku salut sekali dengan apa yang dilakukan oleh sang lebah, dia pejuang lingkungan sejati, ah, aku makin jatuh cinta saja. Sang lebah membawaku ke puncak hutan lindung itu, dia menceritakan segalanya, termasuk bagaimana uang tabungannya habis untuk membiayai ekspedisi reboisasi hutan lindung, aku ngobrol di bawah pohon jati yang telah empat tahun ditanam sang lebah, pohon pertama. Betapa tersanjungnya aku ketika sang lebah bilang bahwa orang yang pertama dia ajak untuk melihat pohon pertamanya adalah aku. Entah aku kegeeran, atau entah memang benar (semoga saja tidak benar), sang lebah mengatakan seolah-olah dia menganggap aku sebagai seseorang yang spesial. Ah, diary aku bingung, aku merasa tak adil buat semuanya….
2 desember 2007

……………………..<<<<<<<>>>>>>>………………….

Diary, aku sedih….aku menangis, tetapi biarlah, aku menangis buat diriku sendiri, aku kan manusia. Aku tidak datang hari ini, aku menyatakan bahwa kekasih bisa datang kapan saja, tetapi mencari sahabat sejati akan sangat sulit….kehilangan sahabat sama dengan kehilangan diri sendiri. Aku tidak datang seperti apa yang disuruh sang lebah dalam suratnya, untuk menjawab pertanyaan surat itu. Aku tidak berani untuk mengatakannya langsung, karena jika sesuatu yang berkaitan dengan perasaan, sesuatu hal yang direncanakan bisa tidak sesuai. Karena perasaanku terhadap sang lebah akan membuat akal sehatku hilang, rasa cintaku akan membuat lidahku kelu saat aku harus bilang tak cinta. Karena itu, aku memutuskan untuk mengirimkan surat saja besok dari sini. Kau kan tahu diary, aku sudah pulang ke rumah, walau tergesa-gesa tetapi aku bisa meyakinkan melati bahwa aku pulang karena aku ingin membangun tanah kelahiranku. Untungnya melati tidak memaksaku untuk mengadakan pesta perpisahan dengan sang lebah. Tahukah kau diary, hatiku merana sebenarnya, aku memang munafik, tetapi,…aku tidak mau kehilangan sahabat, dari awal aku mau rasa ini hilang, tetapi tak pernah bisa kulakukan, rasa itu semakin kuat karena aku semakin mengagumi sang lebah. Mudah-mudahan dengan jarak yang jauh, dan ketidakmungkinan untuk bertemu akan membuat rasa ini hilang. Kamu mau kan diary, menemaniku sampai ajalku tiba?

5 januari 2008

“Kak, ayo kita cari tahu sang lebah itu siapa, melati itu siapa, Kakak pasti tahu, karena Kak Lina, selalu memanggil nama Kakak”. Suara itu, mengusik pikiranku ketika aku tengah membaca tulisan diary Lina, sahabatku. Segera kuseka air mataku dan ku menatap Aldi, adiknya Lina, yang dengan sengaja mencariku jauh-jauh karena ingin membahagiakan kakaknya.
“Iya, Al, nanti Kak Sofi, ceritakan semuanya, tentang siapa itu sang lebah” Sahutku. Kemudian kuceritakan semuanya, bahwa sang lebah itu adalah Raditya, sahabat kami, dan tentu saja, melati itu adalah nama aku. Aldi hanya bisa terdiam dan dia tertegun ketika kuceritakan tentang Raditya, bagi Aldi, wajar jika kami menyukai Raditya.
“Sekarang, Kak Radit ada di mana kak?”.
“Justru itu, sejak kakakmu pulang ke rumah, Radit juga menghilang begitu saja, Kak Sofi sudah mencoba mencari kemana-mana, tetapi tidak menemukan Radit”. 
“Kak Sofi mau kan bantu Aldi mencari lagi Kak Radit, demi Kak Lina?”.
“ Tentu saja Al, kakak pasti akan bantu kamu mencarikan Radit”.
Lalu, aku dan Aldi mulai melakukan pencarian Radit. Aku sudah bertekad bahwa untuk menebus kesalahanku, aku harus menemukan Radit dan mempertemukannya dengan Lina. Kami mencari-cari mulai dari kost-kostan pertama Radit, Base Camp Alumni Kehutanan, Green Camp, hingga telepon ke rumah orang tuanya.
Ada sebuah harapan, berdasarkan cerita orang tuanya Radit, bahwa Radit memang tidak memberi tahu keberadaannya, tetapi dia memastikan bahwa yang dilakukannya sangat bermanfaat buat dirinya dan buat bumi. Berdasarkan cerita itu dan cita-cita Radit, aku mulai menemukan jalan di mana Radit berada. Buku diary lah yang memberiku sedikit informasi. Aku memikirkan hutan lindung dan pohon pertama, aku memikirkan keterkaitannya dengan Lina. Ah tidak salah lagi, Radit pasti ada di sana.
Kemudian kami mulai menanyakan pada orang-orang yang pernah dekat dengan Radit tentang keberadaan hutan lindung dan pohon pertama Radit. Setelah kami kumpulkan semua informasi, kami memutuskan bahwa kami harus ke sana.


……………………..<<<<<<<>>>>>>>………………….

Diary, aku harus bagaimana lagi…? Separuh jiwa ini telah hilang, separuh nafasku tak sanggup kuhisap. Aku masih ingin mencintai…. Apakah salah mencintainya? Kenapa cinta datang bkan pada orang yang tepat? Aku memang selalu ingin melupakannya, tetapi, diary, semakin aku melupakannya, semakin kuat cinta itu merenggutku. Sekarangpun ketika seharusnya cinta itu bisa pergi, batinku malah terasa sakit, aku menahan semua sakit itu, aku masih belum bisa membekukan perasaanku, aku masih mencintainya. Haruskah aku menyerah dan mengkhianati sahabatku sendiri, bagian diriku yang lain. Tidak, diary…. Persahabatan lebih penting dari segalanya.
21 januari 2008

Aku menyerah diary…, tetapi tetap kusimpan perasaanku ini, biarlah cintaku ini bukan untuk dimiliki, dan ku juga tidak akan berusaha untuk memiliki cintanya. Cinta tak harus saling memiliki, cinta adalah anugerah, cinta tak boleh menyakiti, cinta itu tidak boleh membuat menderita, cinta harus bisa membahagiakan. Karena itu diary, aku menyerah untuk tidak mencintainya, aku tidak sanggup berbohong pada diriku sendiri, hatiku selalu sakit ketika ku menyatakan ku tak punya perasaan. Kini setelah aku menyerah, kondisi hatiku membaik, malahan aku kembali bersemangat untuk bisa survive. Ternyata, diary, jatuh cinta itu membuat bahagia….
24 januari 2008

Aku tahu diary, ada susuatu yang disembunyikan oleh orang tuaku mengenai keadaanku, dari dulu aku sudah curiga, sejak aku tidak diijinkan kuliah di luar kota (mereka mengijinkanku karena terpaksa setelah aku mogok makan), sejak aku bolak-balik rumah sakit tanpa kutahu apa penyakitku. Diary, hari ini akhirnya aku diberi tahu oleh orang tuaku mengenai keadaanku, aku menderita kelainan di otak, sejenis kanker. Aku, hanya bisa pasrah… Aku tahu ini semua takdir, aku tahu bahwa kematian bisa datang kapan saja, aku pun tahu bahwa jika kita berusaha apapun penyakit itu pasti bisa disembuhkan. Kamu tahu diary, apa yang membuatku bisa tegar seperti ini? Cinta, diary, rasa cinta yang kumilikilah yang membuatku seperti ini. Cinta membuatku menyalakan semangat, menyadarkanku akan perjuangan hidup, menopangku dalam ketidakberdayaanku, dan aku yakin bahwa cinta akan menyembuhkanku. Hanya satu yang aku takuti sekarang, yaitu jika aku sudah  mati rasa, sehingga aku tidak bisa merasakan cinta ini. Karena cintalah yang menghidupkanku. Percayalah diary, sejak aku punya cinta, aku bertambah yakin akan bisa sembuh….
3 Pebruari 2008

“ Kak, ini tisuenya…”. Suara itu mengagetkanku.
“ Iya, Al, terima kasih”. Kuambil tisue itu, dan tak kuasa ku hanya bisa menangis sejadi-jadinya. Aku tak memperdulikan keadaan sekitar, aku hanya peduli sahabatku yang sedang sekarat, karena aku tahu bahwa sekarang dia dalam keadaan tidak bisa merasakan cinta, yang berarti dia telah kehilangan kehidupannya.
“ Maaf ya Al, kak Sofi seperti ini, kak Sofi hanya merasa bersalah, seandainya dulu kak Sofi bisa menyembunyikan perasaan kak Sofi, tentunya kakakmu bisa hidup bahagia dengan cinta yang saling memiliki.”
“ Kak Sofi tidak boleh merasa bersalah, kak Lina sudah merasakan bahagianya cinta meskipun tidak memiliki wujudnya.”
‘ Kakakmu itu adalah seorang pencinta sejati, jarang sekali orang seperti kakakmu itu..”

……………………..<<<<<<<>>>>>>>………………….

Bersyukurlah aku diary, karena aku masih bisa merasakan cinta meski dalam ketidakberdayaanku, aku lemah secara fisik tetapi aku hatiku kuat, jiwaku kuat. Beruntung pula aku masih bisa berbagi denganmu diary, walau mungkin tulisanku sudah tidak jelas, karena sejak kemarin syarafku mulai kaku, aku terasa lumpuh, tetapi, hatiku tidak lumpuh, aku masih bisa merasakan cinta. Ini konyaol dan agak sentimentil, aku ingin sebelum aku tidak bisa merasakan segalanya, aku ingin bertemu dengan sang lebah. Tapi bagaimana caranya? Mungkin aku bisa berdoa untuk dipertemukan terlebih dahulu dengan sang lebah sebelum dipertemukan dengan sang pencipta. Aku lelah diary….
4 Maret 2008

Radittya……cinta…cinta……

Sofi….sahabat….maaf

Raditya….

Rdaty…

Radit

“Itulah lembaran terakhir yang ditulis oleh Lina, sebelum dia tidak sadarkan diri. Kini sudah dua bulan dia koma di rumah sakit, dokter sudah angkat tangan, mungkin cintalah yang bisa membangunkannya, bahkan mungkin bisa menyembuhkannya sebelum terlambat….” Kuceritakan pada Radit, kulihat Radit tidak bisa menahan kesedihannya. Kubiarkan dia sejenak untuk bisa menenangkan dirinya. Aku tahu berat sekali buat Radit untuk menerima semua ini, Radit telah berusaha untuk menyembuhkan lukanya sendiri, kini berusaha untuk mencoba mewujudkan keinginan yang mungkin keinginan terakhir seseorang yang sangat dicintainya. Radit yang telah mengasingkan diri untuk tinggal di hutan lindung hanya demi menyembuhkan rasa sakit akibat cinta yang ditolak.

“ Sofi, aku tidak bisa, aku nggak sanggup melihatnya…”
“Tolonglah Radit, hanya kamulah satu-satunya harapan yang bisa membuatnya tersadar”
“ Benar Kak, sebelum koma Kak Lina sangat ingin bertemu Kak Radit, tolonglah Kak, setidaknya Kak Lina bisa mendapatkan cintanya terwujud, walaupun…. Mungkin hanya sesaat…”
“Baiklah kalau begitu, kapan kita berangkat?” Raditya akhirnya setuju untuk pergi menemui Lina, walaupun dengan segala keengganan, karena merasa dialah yang telah membuat Lina merana.

…………………………………..<<<<<>>>>>>…………………………………..

“ Lina, ini aku…, sekarang aku sudah tahu semua isi hatimu, sekarang semuanya sudah jelas, Sofi sudah tidak punya perasaan lagi…, sekarang kamu bisa memiliki cinta itu. Sekarang, aku sang lebah itu telah ada di depanmu,….” Raditya, tidak kuasa menahan tangisnya setelah melihat keadaan Lina.
“ Ayolah Lin, segera sadar, aku datang ke sini hanya untuk mendengarkan semua isi hatimu, langsung dari suaramu,….” Raditya mencoba menggerak-gerakan tangan Lina, tetapi usahanya gagal, Lina tetap saja dalam keadaan bawah sadar.
“ Lina, asal kamu tahu, aku mencintaimu apa adanya, biarpun kamu tidak bisa melakukan apa-apa, aku tetap mencintaimu, cintaku tulus…..”
“Lina, selamanya aku tidak akan mencintai wanita lain selain kamu, mencintai wanita lain adalah mengkhianati cinta tulus ini…” ratapan, teriakan histeris, dan tangisan menyatu di ruangan, akan tetapi semuanya tidak bisa membuat Lina sadar.
“ Sudahlah nak Radit, mungkin nanti bisa sadar, ibu yakin Lina mendengar semua ucapan nak Radit.” Ibunya Lina menegur Radit yang sudah tidak terkendali. Radit segera sadar dan melepaspan genggaman tangannya. Namun tiba-tiba Radit merasakan ada respon dari tangan Lina. Semuanya segera melihat Lina yang membuka matanya.
“….semua yang Lina cintai telah hadir sekarang, …Lina bahagia sekali, karena akhirnya Lina bisa mendapatkan seluruh cinta yang ada, mungkin sekarang sudah saatnya Lina mendapatkan cinta dari Sang Pencipta. Maafkan Lina…ya! Ayah, Ibu, Adek, Sofi, …Radit, Lina sayang semua…..” Seketika, Lina kembali tidak sadar, akan tetapi ada suara yang menyadarkan kami, kalau ternyata Lina telah menemui cinta Sang Pencipta.

…………………..<<<< selesai>>>>……………..




Karawang, Januari 2009

Kekangan Jiwa



Malam menjadi suatu ketakutan buatku...
Kali ini akankah siang membunuhku?
Tidak akan kubiarkan semuanya hancur, ku tak bisa memperbaikinya maka seharusnya ku menyerah dan pergi sejauh mungkin sebagai pengecut atau pemberani.
Seperti pepatah bilang tak selamanya sesuatu itu di atas ada kalanya jatuh (dijatuhkan atau tak sengaja jatuh) dan turun menjadi lebih rendah. Aku memang terlalu sombong, terlalu tamak dan terlalu percaya diri. Bukankah over confident itu dilarang?
Sehingga kini ketika semuanya harus seperti sekarang,  aku yang dijatuhkan oleh diriku sendiri, aku yang telah lumpuh, aku yang menjadi antagonis bagi sukmaku, aku yang paranoid terhadap langkahku, aku yang less confident.