Berbuat jujur itu susah sekali, seakan-akan seperti kita menghadapi lawan yang tangguh di suatu final pertandingan. Jujur adalah perbuatan yang sangat mulia. Lawan kata jujur adalah berbuat curang. UAN dan kecurangan santer diberitakan oleh media masa. Beberapa pernyataan telah diungkapkan oleh kalangan yang sebenarnya cinta mati terhadap muridnya, terhadap kualitas pendidikan. Tetapi apa yang mereka dapat, cemoohan, intimidasi, bahkan mau dilaporkan ke kantor polisi. Sungguh aneh...
Apa sebenarnya yang menjadi alasan perbuatan tercela itu? Penulis yakin seseorang akan melakukan perbuatan tercela jika terdesak, ter paksa atau merasa terintimidasi. Perbuatan tercela yang dilakukan adalah " tidak memberikan kesempatan kepada para siswa untuk mendapatkan hasil dari usaha mereka selama bersekolah". Penulis mengalami langsung praktek tercela tersebut disaat EBTANAS, ada oknum guru yang memberikan kertas berisi jawaban, seperti disengaja "pengawas ujian" pun kelihatan memprbolehkan praktek tercela tersebut. Contoh lain, jauh hari sebelum ujian, para siswa yang pintar "didoktrin" untuk tidak pelit memberikan jawaban.(Sungguh aneh...) Kejadian-kejadian tersebut dialami saat terjadi penentuan untuk melanjutkan ke tingkat lanjut. Ketika sekolah dinilai kualitasnya berdasarkan nilai rata-rata NEM muridnya bukan kualitas muridnya. Perbuatan tercela tersebut tidak terjadi ketika kelas 3 SMU, ketika EBTANAS tidak menentukan terhadap siswanya seperti kelulusan (Kelulusan dinilai berdasarkan rata-rata siswa selama sekolah bukan dari nilai ujian akhir).
read more...
Apa sebenarnya yang menjadi alasan perbuatan tercela itu? Penulis yakin seseorang akan melakukan perbuatan tercela jika terdesak, ter paksa atau merasa terintimidasi. Perbuatan tercela yang dilakukan adalah " tidak memberikan kesempatan kepada para siswa untuk mendapatkan hasil dari usaha mereka selama bersekolah". Penulis mengalami langsung praktek tercela tersebut disaat EBTANAS, ada oknum guru yang memberikan kertas berisi jawaban, seperti disengaja "pengawas ujian" pun kelihatan memprbolehkan praktek tercela tersebut. Contoh lain, jauh hari sebelum ujian, para siswa yang pintar "didoktrin" untuk tidak pelit memberikan jawaban.(Sungguh aneh...) Kejadian-kejadian tersebut dialami saat terjadi penentuan untuk melanjutkan ke tingkat lanjut. Ketika sekolah dinilai kualitasnya berdasarkan nilai rata-rata NEM muridnya bukan kualitas muridnya. Perbuatan tercela tersebut tidak terjadi ketika kelas 3 SMU, ketika EBTANAS tidak menentukan terhadap siswanya seperti kelulusan (Kelulusan dinilai berdasarkan rata-rata siswa selama sekolah bukan dari nilai ujian akhir).

